Ini Nusantara Kita

Website khusus yang membahas budaya dan tradisi masyarakat Nusantara agar budaya dan tradisi tersebut tidak hilang termakan zaman dan terus ada di bumi Nusantara. Karena seperti apapun budaya dan tradisinya, ini tetap Nusantara kita yang harus di jaga

Cara Unik Masyarakat Bali Dan Sumbawa Bersaudara

♠ Posted by Nusantara ku in

Tari Periri Sesamungan ini kental dengan budaya masyarkat Bali dan masyarakat suku Sasak..

Ada banyak cara yang dapat di lakukan untuk mempersatukan segala perbedaan. Perbedaan- perbedaan seperti latar belakang, aliran keyakinan, ataupun budaya adalah hal- hal yang akan menjadi kekuatan tersendiri jika disatukan. Hal tersebut juga dilakukan oleh masyarakat Bali dan masyarakat Sumbawa yang mengesampingkan segala perbedaan melalui sebuah seni tari.
Persatuan adalah kekuatan yang sangat sulit untuk dilemahkan. Itulah mugkin hal yang menjadi alasan bagi masyarakat Sumbawa dan masyarakat Bali untuk hidup secara bersama- sama. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat Bali dan masyarakat Sumbawa yang mayoritas masyarakat suku Sasak pernah terlibat konflik yang terjadi berulang- ulang. Tapi kini mereka telah menemukan cara unik untuk menyelesaikan konflik mereka, yaitu dengan Tari Periri Sesamungan.
Bagi masyarakat Bali dan Sumbawa, tari Periri Sesamungan adalah simbol dari persatuan, persaudaraan, dan kekeluargaan diantara mereka. Karena sesuai dengan nama asal tari tersebut yang berasal dari bahasa Lombok yang bermakna Memperbaiki Hubungan. Itulah kenapa tari Periri Sesamungan ini kental dengan budaya masyarkat Bali dan masyarakat suku Sasak.
Seperti misalnya untuk ide dasar garapan tari yang sangat kental dengan tari tradisional Lombok. Ide- ide tersebut dapat terlihat dari musik pengiring dan estetika gerak tari tersebut. Dari segi busana dan aksesori, tari Periri Sesamungan ini sangat kental dengan budaya masyarakat Bali. Itulah kenapa tari Periri Sesamungan jika dilihat hanya dari busana, tidak terlalu jauh hubungannya dengan tari tradisional Bali. Namun jika dilihat lebih dekat, akan terlihat kain tenun suku Sasak yang sangat khas yang semakin mempercantik penari Periri Sesamungan tersebut.
Salah Satu Penari Periri Sesamungan (Sumber Gambar:Indonesiakaya.com)

Dibalik keindahannya, tari Periri Sesamungan juga memiliki sejarah yang panjang yang berawal dari konflik personal antara penduduk Bali dengan suku pribumi pulau Sumbawa yang merupakan suku Sasak. Namun karena kedua belah pihak menyadari bahwa konflik hanya menciptakan kerugian dan tidak menghasilkan apa- apa dan selalu kesusahan, hanya toleransi yang dapat menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. Saling menghargai, saling menghormati, menjadi salah satu cara ampuh yang dapat menyelesaikan permasalahan yang mereka dihadapi. Dan terinspirasi dari tradisi lokal dalam memperbaiki hubungan, maka terciptalah tari Periri Sesamungan yang menggambarkan persaudaraan masyarakat dari Bali dan Sumbawa.
Ada banyak cara mudah untuk memecah persatuan suatu kelompok atau bangsa sekalipun. Hanya tinggal besarkan saja perbedaan yang ada dan banggakan diri sendiri secara berlebihan. Tapi tidak demikian dengan persatuan. Persatuan memerlukan sebuah kesepakatan antara dua atau lebih kelompok atas dasar kesadaran masing- masing. Yaitu kesepakatan untuk memahami satu pola pikir terhadap satu kejadian dan peristiwa.
Tari Periri Sesamungan dari Sumbawa adalah contoh dari satu simbol kesepahaman antara masyarakat Bali dan masyarakat suku Sasak yang ada di pulau Sumbawa. Dan tari Periri Sesamungan juga mengajarkan satu hal kepada kita, bahwa persatuan, persaudaraan, dapat di capai dengan cara apapun.


Sayanusantara.blogspot.co.id



Referensi:
1. http://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/tari-perdamaian-dari-tanah-samawa





Talawang, Identitas Lain Masyarakat Suku Dayak

♠ Posted by Nusantara ku in

Talawang merupakan simbol dari suku Dayak yang sangat menghargai warisan leluhurnya...


Tidak akan pernah ada habisnya cara untuk membahas kebudayaan asli tanah ibu pertiwi. Karena akan selalu ada hal untuk dibahas setelah hal lainnya selesai dibahas. Itulah kelebihan budaya Nusantara dibandingkan dengan budaya- budaya bangsa lainnya dan itulah yang menggambarkan Nusantara secara utuh. Seperti halnya yang dapat dilihat dalam Talawang yang merupakan benda adat masyarakat suku Dayak yang merupakan salah satu kebudayan asli tanah ibu pertiwi.
Talawang sama seperti mandau yang merupakan senjata tradisional masyarakat suku Dayak. Hal ini terjadi karena Talawang merupakan salah satu perlengkapan yang digunakan masyarakat suku Dayak untuk melindungi diri saat berperang. Sama halnya seperti mandau, Talawang merupakan benda budaya yang diyakini memiliki nilai magis tersendiri.

Talawang Suku Dayak (Sumber Gambar: gpswisataindonesia.blogspot.com)
Talawang yang berfungsi sebagai perisai saat berperang, biasanya terbuat dari kayu ulin, kayu besi, atau kayu liat. Kayu- kayu tersebut dipilih karena diyakini memiliki kekuatan yang lebih dibandingkan kayu jenis lain sehingga mampu menangkal serangan apapun. Selain itu, ketiga jenis kayu ini juga terkenal dengan keringanan bobotnya. Kekuatan dan keringanan merupakan hal penting untuk sebauh perisai karena dinilai mampu memberikan perlindungan yang maksimal kepada prajurit perang dari serangan- serangan musuh mereka saat perang berlangsung.

Tari Talawang Mandau (Youtube/Informasi Kapuas)

Dalam segi bentuk, Talawang sama seperti perisai pada umumnya. Berbentuk persegi panjang yang dikedua ujunganya meruncing. Pada umumnya, Talawang masyarakat suku Dayak memiliki ukuran panjang 1-2 meter dan memiliki lebar maksimal 50 centimeter. Selain bentuknya yang unik, sisi bagian luar Talawang juga sangat kental dalam menggambarkan masyarakat suku Dayak dengan adanya ukiran khas masyarakat suku Dayak.
Hampir secara keseluruhan bidang depan Tawalang biasanya di ukir berbentuk topeng (Huda). Dan adanya ukiran pada bagian depan Talawang di yakini memiliki kekuaan magis yang diyakini mampu memberikan kekuatan bagi siapa yang menggunakannya. Lukisan pada Talawang biasanya adalah berupa tulisan burung Tinggang yang merupakan burung yang dianggap suci oleh masyarakat suku Dayak. Selain lukisan burung Tinggang, terdapat pula ukiran Komang yang diyakini masyarakat Dayak sebagai perwujudan roh leluhur mereka. Motif Dayak di gambarkan dengan seeorang yang sedang duduk menggunakan cawat merah dan berwajah merah.
Tidak semua Talawang suku dayak sama dengan suku Dayak dari daerah lainnya. Namun walaupun seperti itu, Talawang merupakan simbol dari suku Dayak yang sangat menghargai warisan leluhurnya. Selain sebagai simbol penghormatan, Talawang juga dijadikan simbol sosial, hal ini terlihat bahwa terdapat ukiran yang menggambarkan flora dan fauna. Ini menggambarkan bahwa kehidupan masyarkat dayak sangat penting untuk menjalin hubungan yang harmonis antara alam dan manusia.

Talawang Suku Dayak (Sumber Gambar: Talawang.blogspot.com)
Talawang suku Dayak menggamarkan bahwa manusia tidak bisa hidup seorang diri tanpa adanya campur tangan alam sekitar, leluhur, ataupun manusia lainnya. Alam semesta adalah tentang kekuatan yang tidak terbatas, ajaran leluhur adalah cara agar manusia dapat bersinergi dengan alam semesta, dan manusia lainnya adalah persatuan, kebersamaan, persaudaraan, dan kekuatan itu sendiri. Hal ini karena semua manusia hidup saling ketergantungan satu sama lain dan cara untuk dapat terus hidup harmonis satu dengan yang lain, mereka dapatkan dari ajaran leluhur mereka yang masih mereka jaga sampai saat ini.


Sayanusantara.blogspot.co.id


Referensi:
1. http://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/talawang-pertahanan-terakhir-suku-dayak
2.  https://id.wikipedia.org/wiki/Talawang





Mencermati Ajaran Leluhur Nusantara 2

♠ Posted by Nusantara ku in

Kehadiran sang Pencipta pada alam semesta menjadikan kemanapun manusia menghadap pasti dia akan bertemu dengan wajah dari sang Pencipta alam semesta itu sendiri


Semesta adalah kumpulan dari banyaknya misteri sebagai elemen utama dalam pembentukannya. Selalu tidak pernah sama banyaknya jumlah misteri yang berhasil dipecahkan antara satu orang dengan orang yang lainnya. Karena sesungguhnya alam semesta bukanlah apa yang ada diluar sana, melainkan apa yang bisa kita cium atau yang bisa kita lihat. Pikiran kita itulah semesta.
Semesta adalah sesuatu hal yang memiliki arti dan fungsi akan keberadaannya. Berada didalam satu sistem yang mengatur segala keseimbangan. Namun bagi orang yang tidak mengerti apa itu semesta, apapun yang dia lihat atau dengar atau rasakan atau alami semasa hidupnya didunia ini, semesta adalah kekosongan. Tidak memiliki arti sama sekali.

Sebagai Perlindungan, Suku Di Papua Membuat Rumah Kaki Seribu

♠ Posted by Nusantara ku in

Rumah kaki seribu atau yang dalam bahasa sekitar dikenal dengan nama Mod Aki Aska atau juga Igkojei yang dibangun oleh suku Arfak sangatlah berbeda dengan rumah- rumah lainnya..


Untuk dapat hidup dan bertahan hidup, makhluk hidup harus memenuhi beberapa hal penting yang akan menunjang hidupnya. Seperti misalnya makanan dan minuman, tempat tinggal, ataupun reproduksi. Hal inipun juga berlaku untuk kehidupan manusia dimanapun dia berada. Seperti misalnya kebutuhan akan tempat tinggal yang menyangkut kepada kemanan manusia itu sendiri.

Tari Salai Jin Ternate, Cara Manusia Berhubungan Dengan Makhluk Halus

♠ Posted by Nusantara ku in

Tari Selai Jin digunakan sebagai sarana manusia berkomunikasi dengan makhluk gaib


Dari banyaknya kearifan lokal yang ada di Indonesia, ternyata masih sangat banyak tradisi yang masih menjadi misteri sampai dengan saat ini. Tradisi tersebut biasanya diyakini oleh masyarakat adat yang sangat berkaitan erat dengan aliran kepercayaan yang mereka yakini. Seperti misalnya tarian Salai Jin dari Ternate.
Tarian Salai Jin merupakan sebuah kesenian asli dari Ternate yang sudah lama di kenal oleh masyarakatnya. Sesuai dengan namanya, tarian ini sangat erat kaitannya dengan hal- hal yang berbau mistis. Dan karena memiliki sifat kemistisan inilah, tari Salai Jin tidak bisa dimainkan oleh sembarang orang.
Orang yang memainkan tari Salai Jin haruslah orang yang memiliki keahlian khusus. Keahlian khusus ini dipergunakan untuk menangkal serangan dari makhluk halus. Penari yang tidak memiliki keahlian khusus dalam menarikan tarian Salai Jin biasanya akan kerasukan makhluk halus dan akan melakukan hal yang tidak di sangka- sangka sebelumnya.
Tarian Salai Jin yang sudah menjadi kearifan lokal masyarakat Ternate ini bukanlah tanpa alasan kenapa diciptakan. Dan sesuai namanya, tari Salai Jin digunakan sebagai sarana manusia berkomunikasi dengan makhluk gaib. Tujuan dari komunikasi ini lebih sering untuk meminta bantuan atas permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat Ternate, seperti misalnya permasalahan penyakit.

Salai Jin (Sumber Video: Youtube, Upload oleh: Risaldy Dede)


Pulau Ternate sendiri merupakan sebuah pulau yang sangat dipengaruhi oleh iklim laut. Iklim laut ini memiliki dua macam iklim yang juga seringkali diselingi oleh dua musim pancaroba disetiap tahunnya. Pengetahuan akan ilmu kesehatan dan pengaruh dari dua musim pancaroba di setiap tahun inilah yang mungkin menjadikan masyarakat tradisional Ternate pada masa lalu mengadakan tradisi Salai Jin.
Namun seiring perkembangan waktu, ternyata tari Salai Jin juga mulai kehilangan daya mistis. Pasalnya, kini tari Salai Jin dijadikan sebuah atraksi pariwisata di Ternate seperti misalnya saat menyambut tamu- tamu kenegaraan yang datang ke Ternate. Tidak hanya itu, tarian inipun juga mengalami beberapa perubahan lainnya. Penari bisa siapa saja bahkan mereka yang tidak memiliki keahlian khusus, bakaran kemenyan diganti menjadi bakaran arang batok kelapa, dan pakaian penari sudah di modernisasi dan berwarna- warni menjadi beberapa tanda perkembangan jaman juga sudah menyentuh tradisi ini.
Berjalannya waktu ternyata mampu mengubah setiap persepsi yang ada akan sesuatu. Sains dan teknologi pun mampu menyelesaikan setiap permasalahan yang dihadapi. Dan dari tari Salai Jin ini kita akan mengetahui bahwa segalanya mampu untuk berkembang menuju sebuah perubahan. Inilah yang mungkin dapat kita lakukan untuk menjaga kearifan lokal asli Indonesia agar tidak hilang, mengenali perubahan yang terjadi tanpa meninggalkan apa yang sudah kita miliki. Karena seperti tari Salai Jin yang sangat berharga, kebudayaan Indonesia yang lainnya sangatlah berharga untuk dipertahankan agar kebudayaan tersebut tidak hilang dan hanya menjadi tulisan atau cerita semata. Mari jaga Indonesia, Ini Nusantara Kita.


Sayanusantara.blogspot.co.id

Referensi:




Mumi, Simbol Kekuatan Masyarakat Lembah Baliem Papua

♠ Posted by Nusantara ku in

Leluhur atau nenek moyang adalah sosok penting didalam kehidupan manusia. Karena dari mereka itulah manusia- manusia yang ada pada saat ini mendapatkan banyak pelajaran penting tentang tata cara hidup dan berkehidupan.


Banyak yang dilakukan oleh masyarakat tradisional Indonesia untuk tetap dapat berhubungan dengan leluhur mereka. Ada yang membuat semacam tugu peringatan ataupun menjadikan tempat dimana dahulu leluhur mereka sering berada menjadi tempat suci dan ritual. Hal inipun ternyata terjadi juga di tanah Papua, Lembah Baliem, yang menjadikan leluhur mereka mumi untuk terus berhubungan dengannya.

Mencermati Ajaran Leluhur Nusantara

♠ Posted by Nusantara ku in



Semua orang tahu bahwa negeri Nusantara terdiri dari banyak suku daerah yang sangat berbeda satu dengan yang lainnya. Tapi mungkin tidak banyak yang tahu bahwa dari sekian banyak perbedaan tersebut, terdapat sedikit persamaan. Dan uniknya persamaan yang dimiliki oleh setiap suku daerah ini mungkin lebih kuat dari pada persamaan dalam pemakaian bahasa dalam mempersatukan Indonesia.

Pelajaran Dari Desa Tenganan Bali Untuk Indonesia

♠ Posted by Nusantara ku in ,


Namun selain mengajarkan adat istiadat kepada generasi muda, masyarakat desa Tenganan memiliki prinsip lain yang selalu aktualisasikan dalam kehidupan sehari- hari mereka

Tidak semua masyarakat modern hidup berlepas dari kehidupan tradisional mereka untuk datang menyambut kehidupan yang lebih maju. Seperti misal adanya beberapa kelompok masyarakat yang mulai melupakan kehidupan tradisional serta meninggalkan tradisi yang sudah dilakukan sejak dahulu kala karena berbenturan dengan spesifikasi untuk masuk kedalam dunia modern. Seperti misalnya beberapa kesenian tato suku- suku tradisional Indonesia yang sudah mulai langka karena generasi muda mereka terbentur dengan peraturan kedisiplinan perusahaan modern tempat mereka melamar pekerjaan. Jika hal ini terjadi, siapakah yang salah?
Desa Tenganan, Bali (Sumber Gambar: gpswisataindonesia.blogspot.com)
Perjalanan dan perkembangan kehidupan manusia saat ini memang bagaikan dua sisi mata koin yang selalu member dampak kepada setiap manusia yang mengikutinya. Sisi positif dan sisi negatif. Dan tulisan ini tidak akan membahas kedua sisi tersebut karena tulisan ini akan membahas bagai mana cara salah satu suku di pulau Bali yang hidup didalam sebuah desa yang sampai dengan saat ini masih dapat memegang teguh kehidupan nenek moyang mereka. Mereka ada suku Bali Aga yang tinggal di desa Tenganan yang terkenal dengan desa yang kuno.

Desa Tenganan adalah salah satu dari tiga desa Bali Aga yang sampai dengan hari ini masih memegang dengan kuat tradisi leluhur mereka. Pemeliharaan tradisi leluhur yang kuat tersebut dapat dilihat dengan masih banyaknya berbagai macam tempat- tempat suci, pemujaan- pemujaan, ritual- ritual sampai dengan adat istiadat yangmasih berlangsung sampai dengan saat ini. Seperti juga misalnya pemakaman orang meninggal yang dilakukan diatas batu seperti yang dilaksanakan di Teruyan, desa lain tempat suku Bali Aga tinggal.

Masih dipegangnya berbagai macam tradisi tradisional di desa ini bukanlah semata- mata karena jasa dari satu atau dua orang. Melainkan dari seluruh lapisan masyarakat yang berada di desa tersebut. Seluruh lapisan masyarakat seperti sepakat untuk menanamkan adat istiadat mereka kepada generasi muda mereka sejak dini hingga generasi mudanya tersebut menjadi orang dewasa. Penanaman adat istiadat ini menjadikan pondasi pemahaman akan sebab akibat suatu adat istiadat disana dipahami dengan sebaik- baiknya dan tidak ada alasan untuk meninggalkannya.
Penanaman keilmuan tentang adat istiadat ini menjadikan keadaan desa manjadi kuat walaupun disisi lain mereka juga bersinggungan langsung dengan dunia modern. Namun dengan pamahaman yang mendalam, banyaknya wisatawan yang datang kedesa mereka bukanlah menjadi sebuah ancaman bagi tradisi mereka.
Di desa Tenganan, tidak hanya adat istiadatnya saja yang terpelihara. Namun dari segi arsitektural, mereka juga terjaga. Seperti misalnya banyaknya rumah batu yang sejak dahulu ada sampai sekarang masih digunakan karena kelestariannya yang terjaga. Maka tidak heran jika berkunjung kedesa tersebut banyak orang akan bingung karena bentuk rumah, bentuk atap, halaman, hampir semuanya seragam dengan bahan pembuatan rumah yang sama. Yaitu dari batu merah, batu sungai, tanah dan tumpukan daun rumbia untuk bagian atapnya.
Suasana Desa Tenganan, Bali (Sumber Gambar: Kebudayaan.kemdikbud.go.id)


Namun selain mengajarkan adat istiadat kepada generasi muda, masyarakat desa Tenganan memiliki prinsip lain yang selalu aktualisasikan dalam kehidupan sehari- hari mereka. Prinsip tersebut dikenal dengan konsep Tri Hita Karana. Tri Hita Karana merupakan konsep utama dalam ajaran hindu yang banyak diyakini oleh masyarakat Bali sebagai sakah satu keyakinan mereka.
Tri Hita Karana merupakan konsep penting dalam ajaran Hindu karena menyangkut tentang sebab- sebab sebuah kebahagiaan guna mencapai sebuah keseimbangan dan keharmonisan. Tri Hita Karana terdiri dari tiga buah konsep. Yaitu konsep Parahyangan yang merupakan konsep kehidupan yang seimbang antara manusia dengan Tuhan mereka selaku pencipta dan penjaga mereka. Lalu juga ada konsep Pawongan yang merupakan konsep hubungan yang harmonis antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya. Sedangkan yang terakhir adalah konsep Palemahan yang merupakan konsep hubungan yang harmonis antara manusia dengan lingkungan di sekitarnya.
Tri Hita Karana sebenarnya bukan hanya konsep dari ajaran Hindu. Melainkan sudah menjadi sebuah konsep universal dimana konsep tersebut sudah banyak di aktualisasikan dibanyak tempat. Hanya saja konsep tersebut dikenal dengan nama yang berbeda- beda. Disebut universal karena konsep tersebut merupakan konsep yang menjadikan manusia selalu ingat akan hakikat hidupnya sebagai makhluk.
Salah Satu Tradisi Di Desa Tenganan, Bali (SUmber Gambar: blog-sejarah.blogspot.com)
Tidak dapat dipungkiri juga bahwa adat istiadat yang terpelihara dengan baik sampai dengan hari ini diyakini sebagai penghubung antara manusia yang ada saat ini dengan leluhur mereka. Jadi ketika mereka menjalankan sebuah adat istiadat secara tidak langsung sama saja mereka telah menghormati leluhur mereka yang telah mencontohkan pola hidup dan kehidupan yang baik dan bersifat sakral. Jadi tidak heran jika ada orang datang kedaerah asing dan melanggar adat istiadat dari daerah itu, orang asing tersebut akan dihukum adat karena dianggap tidak menghormati leluhur setempat.
Desa Tengahan merupakan salah satu desa yang menjadi pelajaran bagi masyarakat modern untuk tetap setia terhadap adat istiadat mereka. Karena adat istiadat itulah yang sudah memelihara mereka sejak awal mereka lahir dibumi. Dan jika kita dapat memetik pelajaran dari desa Tengahan dan mengaplikasikannya dikehidupan sehari- hari, mungkin kehidupan yang damai dan sejahtera yang dicita- citakan bangsa ini akan segera terwujud. Desa Tengahan sudah membuktikannya. Ini Nusantara Kita.


Sayanusantara.blogspot.co.id


Referensi:
http://1001indonesia.net/desa-tenganan/
https://id.wikipedia.org/wiki/Tenganan,_Manggis,_Karangasem

Jarang Dibahas, Inilah Sisi Politik Pertunjukan Ludruk

♠ Posted by Nusantara ku in


Selain sempat dijadikan sarana untuk mengedukasi masyarakat tentang kemerdekaan, Ludruk juga sempat dijadikan sarana untuk menggalang massa oleh PKI

 

Budaya dan tradisi yang sangat banyak disuatu daerah selalu bercermin kepada banyaknya kesenian dari daerah tersebut. Karena dari budaya dan tradisi tersebutlah kemudian lahir bibit- bibit kesenian yang mencirikan suatu daerah. Itulah kemudian yang menjadikan Indonesia yang sangat kaya akan budaya dan tradisi juga kaya akan kesenian- kesenian yang termasuk didalamnya kesenian teater. Salah satu kesenian teater yang sangat dikenal selain Topeng Betawi adalah kesenian Ludruk.

Reog Ponorogo, Simbol Bangsa Nusantara Tidak Boleh Tunduk Kepada Bangsa Lain

♠ Posted by Nusantara ku in ,

 Seni Reog pada masa Ki Ageng Kutu merupakan sebuah kesenian yang ditujukan untuk menyindir pemerintahan dari kerajaan Majapahit..


Dari banyaknya kebudayaan asli Indonesia terdapat beberapa kebudayaan yang diakui oleh dunia sebagai warisan budaya dunia. Bahkan dari kekayaan budaya yang dimilikinya, banyak pula bangsa- bangsa diluar Indonesia yang mempelajari budaya Indonesia. Seperti misalnya ada beberapa universitas di negara luar yang menjadikan bahasa Jawa sebagai salah satu mata pelajarannya ataupun terdapat sebuah pelajaran bahasa Indonesia yang menarik banyak peminat pelajar diluar negeri untuk mempelajarinya. Namun ternyata dari banyaknya kekayaan budaya yang dimiliki, terkadang terdapat pula permasalahan dari adanya kebudayaan yang diakui oleh negara lain. Seperti misalnya yang pernah terjadi pada kebudayaan Reog Ponorogo beberapa tahun silam.

Rahasia Dibalik Karapan Sapi Dari Pulau Madura

♠ Posted by Nusantara ku in ,

Karapan Sapi bukan hanya sekedar tradisi merayakan hasil panen, tapi juga memiliki nilai-nilai lain yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat Madura...


Salah satu tradisi asli tanah Nusantara yang sudah diakui oleh dunia adalah Karapan Sapi. Karapan sapi atau adu balap sapi adalah salah satu kebudayaan asli pulau Madura di Jawa Timur yang sudah dikenal oleh dunia luas. Bahkan kini menurut kabar, sebuah produsen mobil sport kelas dunia menjadikan Karapan Sapi sebagai inspirasi dalam pembuatan mobil super cepat mereka.
Karapan Sapi merupakan kebudayaan yang sudah diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyang masyarakat pulau Madura. Tidak ada sejarah pasti tentang asal muasal dari Karapan Sapi, namun dari banyaknya cerita yang beredar, tradisi Karapan Sapi tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat pulau Madura yang mayoritas adalah  petani.

Punya Masalah Mulut? Inilah Rahasia Leluhur Nusantara Memiliki Gigi Yang Sehat

♠ Posted by Nusantara ku in ,

 Terancam hilangnya tradisi Nyirih pada zaman modern ini juga menjadikan Nyirih menjadi kegiatan yang cukup jarang ditemui.

Nginang atau yang banyak dikenal dengan nama Nyirih adalah sebuah kegiatan yang sudah ada sejak lama di bumi Nusantara. Keberadaannya yang sudah lama di bumi Nusantara ini diperkuat dengan banyaknya para penjelajah pada masa lalu yang membahasnya. Seperti misalnya Marcopolo dalam catatannya, sekaligus juga memperkuat pernyataan penjelajah sebelumnya (Ibnu Batuta dan Vasco Da Gama) yang menyatakan bahwa terdapat masyarakat di timur yang memiliki kegemaran makan sirih.
Nyirih atau tradisi makan sirih dikenal dengan banyak nama karena tradisi ini menyebar secara luas di beberapa daerah di Nusantara. Tradisi ini dibeberapa daerah dikenal dengan nama Bersugi, Bersisik, Menyepah, Nyusur, dan Nginang. Bahkan bagi masyarakat Jawa kuno sendiri, tradisi Nyirih ini adalah sebuah tradisi yang sudah menjadi kewajiban. Maka tidak heran jika banyak orang tua- orang tua yang melakukan dan mempertahankan tradisi ini sampai sekarang. Namun walaupun begitu, kini tradisi Nyirih sudah banyak dilupakan oleh generasi muda.
Bukan tanpa alasan tradisi ini mulai ditinggalkan. Banyak sekali yang mangatakan bahwa masuknya budaya mengemil dan merokok adalah beberapa hal yang menjadikan tradisi ini hilang. Selain itu tradisi Nyirih ini, bagi mereka yang belum pernah mencobanya, mungkin adalah tradisi yang menjijikan karena orang yang Nyirih selalu meludah cairan berwarna merah. Namun itu bukanlah darah, melainkan merupakan campuran dari bahan- bahan yang digunakan untuk Nyirih.

Ilustrasi Wanita Yang Sedang Nyirih (Sumber Gambar: www.Satujam.com)

Nyirih adalah campuran dari bahan- bahan alami yang biasa didapatkan didaerah sekitar kita. Seperti daun sirih, kapur sirih (di beberapa daerah disebut Enjet), gambir, dan buah pinang. Bahkan dibeberapa daerah, terkadang juga dicampur dengan Tembakau. Dan karena campuran tembakau inilah banyak pula orang yang menanyakan kesehatan kegiatan Nyirih.
Seperti kita tahu, tembakau adalah bahan utama dalam pembuatan rokok. Namun apakah kegiatan Nyirih yang juga menggunakan tembakau sama berbahayanya dengan rokok? Hal ini ternyata pernah dilansir dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh National Board of Health and Welfare pada 1997. Dalam penelitiannya, mereka menemukan bahwa pada produk Smokeless Tobacco atau produk tembakau non- rokok, termasuk juga didalamnya Nyirih, dijumpai resiko yang sama dengan merokok namun lebih kecil. Seperti misalnya terhadap resiko terkena penyakit jantung dan pembuluh darah yang akan diterima Smokeless Tobacco akan meningkat 2 kali lipat dibandingkan ketika tidak mengkonsumsi tembakau. Sedangkan pada perokok, resiko ini meningkat menjadi 3 kali lipat. Namun walaupun memiliki resiko yang besar, bukan berarti mereka yang biasa Nyirih selalu menggunakan tembakau di setiap campuran Nyirih mereka.


Dibalik setiap resiko yang mungkin ada, Nyirih adalah kegiatan yang memiliki nilai positif bagi mereka yang melakukannya. Seperti yang biasa kia dengar dari Mitos yang banyak berkembang tentang Nyirih itu sendiri. Banyak yang mengatakan bahwa kegiatan Nyirih adalah kegiatan yang dapat membuat gigi dan gusi lebih kuat dan sehat. Selain itu, kegiatan Nyirih juga di yakini dapat menghilangkan bau mulut yang tidak sedap.

Ilustrasi Wanita Yang Sedang Nyirih (Sumber Gambar: www.Pewartayogya.com)


Namun ternyata, itu bukanlah sebuah mitos belaka yang tidak memiliki dasar ilmiah. Kuat dan sehatnya gigi dan gusi adalah karena daun sirih memiliki kemampuan sebagai antiseptik, antioksidan, dan fungisida. Daun sirih memang adalah salah satu daun yang banyak digunakan untuk pengobatan tradisional yang banyak digunakan. Biasanya, orang menggunakan daun sirih sebagai obat dari sariawan, sakit mata, keputihan, demam berdarah, eksim basah dan eksim kering, luka bakar dan lain- lain.
Menurut Hariana didalam buku yang berjudul Tumbuhan Obat dan Khasiatnya, daun sirih adalah daun yang mengandung minyak atsiri sampai dengan 4,2%, senyawa fenil prapanoid dan tannin. Senyawa- senyawa ini adalah senyawa yang bersifat antimikroba dan anti jamur yang kuat dan dapat menghambat pertumbuhan beberapa jenis bakteri. Diantaranya adalah Escherichia Coli, Salmonella sp, Staphylococcus, dan dapat mematikan Candida Albicans.
Apa yang dikatakan oleh Hariana, ternyata juga di dukung oleh Ditjen POM pada 1980 yang menyebutkan bahwa pada daun sirih dijumpai senyawa Flavonoid dan Tanin yang bersifat anti mikroba dan senyawa Kavikol yang memiliki daya membunuh bakteri lima kali lebih kuat dari fenol biasa. Berarti, daun sirih mampu menyembuhkan penyakit yang disebabkan oleh ketika bakteri tersebut.


Bagi banyak orang, Nyirih adalah kegiatan yang biasa dilakukan pada waktu luang mereka. Karena bagi mereka Nyirih dapat menghilangkan beban fikiran yang sedang dihadapi, mengganjal rasa lapar, menghilangkan jenuh dan memperkuat gigi mereka. Bahkan bagi sebagian orang, Nyirih kadang kala dijadikan hobi.
Terancam hilangnya tradisi Nyirih pada zaman modern ini juga menjadikan Nyirih menjadi kegiatan yang cukup jarang ditemui. Terlebih jika yang Nyirih itu anak muda. Kegiatan Nyirih ini kebanyakan dilakukan oleh orang tua yang mayoritas sudah berusia lebih dari 50 tahun. Bahkan saking jarangnya, berbagai macam kegiatanpun sering dilakukan untuk melestarikan tradisi ini. Salah satunya dengan menyelenggarakan lomba Nyirih di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Perlombaan yang dilakukan oleh masyarakat yang sudah berusia lanjut ini dilakukan pada setiap tahunnya. Dan uniknya, dalam perlombaan, setiap orang yang ikut serta dalam perlombaan meracik dan memakan sirih sambil berbalas pantun, menari atau menembang.

Ilustrasi Wanita Yang Sedang Nyirih (Sumber Gambar: www.Chemember.Wordpress.com)


Kegiatan Nyirih sudah sulit ditemukan pada masyarakat perkotaan karena bagi banyak orang mungkin Nyirih adalah kegiatan yang sangat menjijikan dan tidak memiliki nilai guna. Itulah kenapa banyak orang yang lebih memilih mengisi waktu luangnya dengan merokok. Padahal manfaat yang didapatkan dari merokok dan menyirih sangat jauh berbeda dan jauh berbahaya merokok dari pada menyirih. Namun mungkin karena faktor lingkungan, merokok kini sudah menjadi sebuah gaya tersendiri bagi masyarakat.


Nyirih sangat sulit dilepaskan dari meraka yang sudah lanjut usia terlebih jika mereka Nyirih sejak masa muda mereka. Salah satu faktorya adalah karena mereka sudah merasakan khasiatnya. Dan dari banyaknya sumber, orang yang melakukan Nyirih biasanya memiliki tubuh yang kuat, gigi yang sehat dan utuh, kulit yang segar dan panjang umur. Itu karena Nyirih terbuat dari bahan- bahan organik dan tanpa bahan kimia sama sekali. Berbeda dengan rokok yang hampir 99% adalah bahan kimia. Jadi masih lebih memilih rokok kalau nenek moyang kita sudah mencontohkan cara yang sehat untuk hidup? Ini Nusantara Kita.


Sayanusantara.blogspot.co.id



Referensi:
1.http://mikirpintar.blogspot.co.id/2015/09/tradisi-nginang-ternyata-juga-bermanfaat.html
2.http://www.banyuwangibagus.com/2014/10/tradisi-suku-osing-banyuwangi.html
3.http://www.gedangsari.com/tradisi-nyirih-nginang-di-gunungkidul-tradisi-leluhur-jangan-luntur.html

4.http://manfaat.co/16-manfaat-daun-sirih-hijau.html



Penting. Inilah 3 Alasan Hilangnya Sebuah Sejarah Yang Dapat Berakibat Hancurnya Sebuah Bangsa Di Kemudian Hari


 Eksistensi sebuah bangsa ditentukan dari kepedulian bangsa tersebut akan sejarah yang ada. Sejarah yang hilang akan menjadikan suatu bangsa akan hilang pula dikemudian hari


Sejarah dalam bahasa Arab disebut dengan kata Sajarotun yang terdapat dalam Al-Qur’an. Didalam kitab tersebut, Sajarotun dimaknai sebagai pohon. Dalam kitab tersebut, pohon juga dibagi menjadi dua jenis pohon. Yaitu pohon yang baik dan pohon yang buruk. Kedua pohon ini ditentukan dari kualitas akarnya yang jika akar pohon tersebut baik maka batang serta buah dari pohon tersebut juga baik dan berlaku juga sebaliknya.
Namun ternyata analogi dari pohon ini juga dapat dimaknai sebagai perjalanan hidup seorang manusia. Dimana akar itu adalah analogi dari pola pikir, batang adalah analogi dari perbuatan, dan buah adalah analogi dari hasil. Jadi jika seseorang berbuat baik sudah pasti itu adalah analogi dari buah yang baik yang berasal dari akar yang baik. Dan jika seseorang berbuat jahat, sudah menjadi sebuah ketetapan juga jika buah yang buruk juga berasal dari akar yang buruk.
Hanya saja permasalahannya, pohon juga dianalogikan sebagai sebuah bangsa yang terdiri dari banyak manusia karena sebuah bangsa sudah pasti memiliki sejarah masa lalu. Dan tidak sedikit pula manusia yang ada didalam bangsa tersebut tidak menyukai sejarah dari bangsanya dan akhinya berbuat kerusakan yang dapat menjadi analogi “bakal akar pohon yang buruk”.
Tidak hanya di Indonesia, negara- negara yang ada di dunia saat ini adalah negara yang bersinggungan langsung dengan kehidupan modern. Segalanya menjadi lebih mudah dan dituntut cepat dalam memenuhi kebutuhan. Baik itu berupa kebutuhan yang bersifat primer, sekunder, atau tertier sekalipun. Berbagai macam cara terkadang dilakukan guna mencapai segala kebutuhan tersebut dan tidak jarang juga harus menyingkirkan segala jenis hal yang memiliki kemungkinan sebagai penghambat.
Sesuai dengan sebutannya, situs bersejarah adalah situs- situs yang memiliki sentuhan langsung dengan kehidupan masa lalu yang berdampak sangat besar bagi kehidupan masa kini. Seperti misalnya hal- hal yang berkaitan dengan pejuangan kemerdekaan ataupun bebagai macam penemuan- penemuan. Dan situs bersejarah ini adalah situs yang sangat berharga karena dapat menjadi sebuah ingatan tersendiri bagi orang- orang yang melihat atau berada disitus tersebut. Sehingga mereka yang datang dapat merasakan semangat, spirit, ataupun mendapatkan insprasi dari para pejuang dan penemu dimasa lalu.
Namun ternyata, tidak bisa di kesampingkan, kehidupan modernisasi seperti sekarang ini juga berdampak kepada hilangnya situs- situs bersejarah. Cukup banyak situs-situs bersejarah yang hilang karena bersinggungan, baik secara langsung ataupun tidak langsung, dengan pekembangan jaman karena banyaknya anggapan yang meyatakan bawa situs bersejarah dapat menjadi penghalang perkembangan salah satu sisi penunjang kehidupan manusia. Dan berikut SayaNusantara akan mengungkapkan beberapa penyebab dari hilangnya situs- situs bersejarah baik yang ada di Indonesia ataupun yang ada di negara- negara lain di dunia.


1.  Ketidaktahuan dan Kecerobohan
Ketidaktahuan seseorang adalah hal penting yang menyangkut kepada keilmuan seseorang tentang sejarah. Hal ini penting karena ketika seseorang tidak mengenal sejarah suatu tempat ataupun sebuah situs, maka besar kemungkinannya seseorang itu akan berbuat kerusakan bahkan menghilangkan situs bersejarah tersebut. Sebuah pengetahuan tentang benda- benda bersejarah sangatlah penting terutama dalam hal deteksi dini saat benda bersejarah tersebut ditemukan. Hal ini karena benda- benda bersejarah adalah benda- benda yang sudah sangat tua dan sangat rentan akan kerusakan sehingga walaupun kita adalah orang yang sangat ahli dalam benda- benda bersejarah sekalipun, kita sangat dituntut hati- hatian ketika bersentuhan dengannya. Ketidaktahuan seseorang akan sejarah ataupun situs-situs peninggalan akan memicu berbagai macam kecerobohan yang akan berdampak langsung kepada kerusakan ataupun hilangnya situs tersebut.
Hal ini pernah terjadi di Cremona, sebelah utara Italia, pada patung ”Two Hercules”. Tidak ada yang tidak mengenal sosok Hercules, bahkan masyarakat Cremona sendiri meyakini bahwa kota mereka dibangun oleh Hercules. Karena itulah mereka mengabadikan sosok Hercules dalam bentuk patung. Namun sangat disayangkan ketika dua orang turis datang untuk berfoto dengan patung berusia sekitar 300 tahun itu. Berniat untuk mengabadikan kunjungan mereka, kedua turis itupun berfoto dengan patung bersejarah tersebut dimana salah satu turis itu bergelantungan kepada salah satu bagian dari patung. Patung yang sudah tua itupun tidak kuat menahan beban dan akhirnya rusak.
Atau ketika sekelompok pemuda yang ingin berbuat baik dengan membersihkan coretan- coretan iseng di gua Mayrieres justeru malah menghapus lukisan gua yang sudah berusia lebih dari 15.000 tahun. Hal itu terjadi karena pemuda- pemuda itu tidak tahu bahwa di gua tersebut terdapat sebuah lukisan bukti sejarah dari manusia gua karena bercampur dengan coretan- coretan iseng yang ada disekitar lukisan tersebut dan lukisan gua yang dibersihkan itupun tidak bisa dikembalikan seperti semula.

Ilustrasi Mural Bendera Indonesia (Sumber Gambar: www.Uniqpost.com)

      2. Tuntutan
Hal kedua yang sangat memungkinkan pengerusakan terhadap situs bersejarah adalah tuntutan. Faktor kedua ini lebih menekankan kepada mereka yang sudah mengetahui sejarah beserta situs- situsnya. Namun karena sebuah tuntutan, mereka akhirnya tidak mengindahkan pengetahuan mereka untuk merusak situs- situs bersejarah.
Kebutuhan adalah sesuatu yang sangat vital yang harus dipenuhi oleh semua makhluk hidup. Terutama kebutuhan primer yang wajib dipenuhi. Seperti kebutuhan akan pakaian, tempat tinggal, makanan, dan minuman. Dan karena keharusan inilah banyak makhluk hidup yang melakukan apa saja demi memenuhi kebutuhan primernya ini. Bahkan sekarang, seiring berkembangnya jaman, bukan hanya kebutuhan primer saja yang menjadi keharusan untuk dipenuhi, tapi juga kebutuhan sekunder dan tertier.
Dunia modern seakan- akan menjadikan warna- warna yang menghiasi kebutuhan primer, sekunder, dan tertier menjadi abu- abu sehingga banyak orang yang tidak bisa membedakannya satu sama lain. Hal inilah yang memicu banyaknya aktifitas yang dilakukan guna menghilangkan segala kemungkinan yang dapat menghambat. Seperti kemungkinan adanya situs bersejarah yang dapat menjadi penghambat seseorang tidak bisa mengembangkan kebutuhan ekonominya.



3.  Politik
Mungkin banyak yang tidak menyangka bahwa politik menjadi salah satu faktor dari hilangnya situs- situs bersejarah. Betapa tidak karena politik menyangkut masalah kekuasaan dan kekuatan, tidak sedikit situs bersejarah yang dihancurkan bahkan dihilangkan. Seperti misal hilangnya banyak bukti- bukti sejarah dunia yang mengakibatkan banyak dari generasi muda tidak mengetahuinya. Seperti hilangnya sejarah tentang kehebatan dan kebesaran bangsa Nusantara pada masa lampau atau sejarah jatuhnya kekhalifahan islam pada masa lalu.
Bagi sebuah kekuasaan, sejarah beserta bukti-buktinya adalah sesuatu yang sangat penting karena menyangkut kepada kelanggengan suatu pihak dalam berkuasa. Karena jika terdapat sejarah yang dirasa tidak sesuai dalam sebuah visi misi sebuah kekuasaan, sejarah itupun kemudian dihapus atau dimodifikasi sehingga diwaktu kemudian generasi muda bangsa itu tidak dapat mempemasalahkan atau mencari titik kesalahan bangsanya saat ini dengan masa lalu.


Sejarah adalah sebuah bukti nyata bahwa manusia mangalami perkembangan kemajuan hidup dari waktu ke waktu. Sangat banyak hal yang di masa ini diperdebatkan namun ketika melihat sejarah, masalah tersebut dapat diselesaikan dimana situs- situs bersejarah yang ditemukan menjadi bukti dari pemecahan masalah tersebut.
Dari masa lalu manusia bisa belajar tentang bagaimana seharusnya hidup dan berkehidupan dan dari masa lalu pula manusia bisa mengetahui dan mengerti nilai- nilai dari sebuah perjuangan dan pengorbanan. Tidak ada yang salah dengan sejarah seburuk apapun sejarah itu. Karena hanya dari sejarah saja kita bisa mencapai titik kehidupan seperti sekarang ini dan sangat disayangkan jika sejarah tersebut dihancurkan atau dihilangkan. Karena dari sejarahlah kita dapat mengetahui tentang apa, kenapa, bagaimana, siapa, kapan, sesuatu itu diperjuangkan. Jagalah sejarah kita dengan meningkatkan kepedulian kita terhadap ibu pertiwi dan warisan- warisannya. Ini Nusantara Kita.


Sayanusantara.blogspot.co.id



Referensi:
1.http://www.anehtapinyata.net/2015/12/situs-sejarah-rusak.html
2.http://www.boombastis.com/situs-sejarang-yang-hilang/14890






Terbongkar. Inilah Sosok Nyata Dari Keturunan "Nenek Moyangku Seorang Pelaut"

♠ Posted by Nusantara ku in ,

Suku Bajo mangajarkan kita bahwa tidak selalu dibutuhkan perubahan atau modernisasi untuk dapat menjaga alam...


Alam adalah hal yang sangat penting untuk dijaga keberadaannya. Tidak jarang dari beragamnya aktifitas manusia yang ada membuat keberadaan alam menjadi semakin terancam keberlangsungan ataupun keberadaannya. Berbagai macam cara dilakukan untuk menjaga keberlangsungan dan kelestarian alam baik dengan cara modern ataupun cara tradisional. Dan salah satu hal yang dilakukan dengan cara tradisional dalam rangka menjaga kelestarian alam adalah yang dilakukan suku Bajo dalam menjaga kelestarian laut.
Suku Bajo adalah salah satu suku yang ada di Indonesia dari sekian banyaknya suku yang ada. Dan yang membedakan suku Bajo dengan suku lainnya adalah pola hidupnya yang menyatu dengan laut. Suku Bajo tersebar di banyak tempat di Indonesia namun mayoritas atau kebanyakan berada di wilayah Sulawesi. Dalam kehidupannya, suku Bajo membuat tempat tinggal diatas luat atau bahkan dahulu mereka tinggal diatas perahu kayu.
Rumah- rumah masyarakat suku Bajo (Sumber gambar: Zharkfishseazhark.blogspot.com)

Sama dengan kebanyakan suku lainnya yang ada di Indonesia, suku Bajo lebih memilih hidup menjauh dari kehidupan perkotaan. Mereka hidup dengan mempertahankan kearifan lokal mereka yang sudah diwariskan secara turun temurun dari nenek moyang mereka. Seperti salah satunya adalah cara hidup bersinergi dengan alam. Dan karena hidup menyatu dengan alam, suku Bajo pun kemudian dikenal dengan suku pelaut yang sangat ahli.
Dalam kehidupan kesehariannya, masyarakat suku Bajo secara umum hidup dengan cara tradisional. Baik dalam mencukupi kehidupan sehari- hari ataupun dalam bersosialisasi dengan kelompok masyarakat lain. Seperti misalnya dalam pembuatan rumah.
Dalam pembuatan tempat tinggal, masyarakat suku Bajo membangun rumah dengan bentuk panggung diatas permukaan laut yang bervariasi kedalamannya. Ada yang hanya sedalam satu meter bahkan sampai ada yang mencapai 8 meter. Sedangkan untuk bahan utama pembuatan rumah, masyarakat suku Bajo menggunakan kayu yang tahan terhadap air. Dan untuk menghubungkan satu rumah dengan rumah yang lainnya mereka menggunakan jembatan yang juga terbuat dari kayu.
Pemukiman masyarakat suku Bajo ini sempat akan dibangun jembatan beton oleh pemerintah setempat untuk menggantikan jembatan kayu. Namun ternyata rencana pembangunn tersebut tidak disetujui oleh masyarakat suku Bajo. Bukan tanpa alasan, karena bagi mereka ketika jembatan diganti dengan beton sangat besar kemungkinannya akan ada kendaraan bermotor yang masuk ke pemukiman.
Bagi masyarkat suku Bajo, kendaraan bermotor yang masuk kedalam pemukiman sangat besar kemungkinannya untuk merusak lingkungan. Seperti misalnya dari gas buang dan oli buangan kendaraan yang masuk dapat mencemari udara dan air disekitar pemukiman serta dari konsekuensi pembuatan jembatan beton yang dapat mengganggu ekosistem laut.

Lebih dari itu, tradisi juga budaya dalam kearifan lokal yang masih dipegang kuat oleh masyarkat suku Bajo menjadikan mereka pelaut yang sangat handal walaupun tanpa menggunakan terknologi modern. Karena tradisi nenek moyang mereka mengajarkan kepada mereka bagaimana cara mencari ikan serta menjaga lingkungan laut. 
 
Jembatan kayu di perkampungan masyarakat suku Bajo (Sumber Gambar: foto.tempo.co)


Menyatunya masyarakat suku Bajo dengan laut menjadikan mereka mengenal tanda- tanda dari perubahan alam ataupun tentang cara membaca laut seperti misalnya mereka dapat mengetahui mana saja bagian lautan yang memiliki banyak terumbu karang yang dapat dilihat dari permukaan laut sekitar terumbu karangnya yang cukup tenang, banyak terdapat buih atau busa, udara berbau anyir, ataupun pada saat dayung perahu berdesir saat berperahu. Bagian terumbu karang di laut juga dapat terlihat pada malam hari melalui ilmu- ilmu yang dimiliki suku Bajo yang sudah diwariskan secara turun temurun itu. Yaitu dari pantulan cahaya bulan pada malam hari. Sinar atau kilauan cahaya bulan akan memantul jika misalnya cahaya tersebut terkena bagian terumbu karang. Ataupun pada saat elang laut mendekat ke laut pada saat jam- jam surut di siang hari.
Ilmu yang diwariskan secara turun temurun dari nenek moyang suku Bajo ini bukanlah termasuk ilmu yang tidak memiliki dasar. Karena ketika diteliti olah para peneliti, mereka menyimpulkan bahwa pengetahuan suku Bajo ini memiliki dasar- dasar ekologi. Seperti misalnya pada pengetahuan mereka cara mengenali kawasan terumbu karang di laut itu. Terumbu karang yang ada di laut berfungsi sebagai pemecah gelombang atau penahan arus sehingga sangat wajar jika keadaan air disekitar terumbu karang itu cukup tenang. Dan karena permukaan air cukup tenang, jadi sangat wajar pula jika cahaya bulan pada malam hari dapat terpantulkan dan sangat wajar jika pada waktu saat- saat surut terdapat banyak elang laut mendekat. Karena pada terumbu karang tersebut banyak terdapat biota- biota laut yamg jadi makanan burung elang tersebut. 
 

Anak- anak suku Bajo (Sumber Gambar: Nationalgeographic.co.id)
Pengetahuan terhadap cara membaca laut ini sudah menjadi pengetahuan yang sangat langka. Karena hanya dimiliki atau bisa dipahami oleh mereka yang benar- benar hidup dari laut. Dan bukan waktu yang sebentar untuk dapat memahami ilmu pengetahuan ini karena diperlukan berbagai macam uji analisis untuk membuktikan kebenarannya. Dan masyarakat suku Bajo adalah salah satu suku yang telah mengerti ilmu ini dan menjadikan ilmu ini sebagai semacam acuan untuk dapat hidup.
Salah satu tradisi lain yang masih dijalankan oleh masyarakat suku Bajo, yang sudah ada sejak lama, adalah tradisi mereka dalam menangkap ikan. Mereka menggunakan alat- alat tradisional dalam menangkap ikan sehingga meskipun mereka pergi dalam waktu yang lama ataupun mendapatkan hasil ikan yang berlimpah, keadaan laut tidak akan terganggu oleh mereka. Tradisi melaut menangkap ikan suku Bajo dikenal dengan nama Palilibu, Bapongka atau Babangi, juga Sasakai.

baca juga: Kapal Jung, Bukti Keperkasan Nusantara Di Samudra 

Perbedaan dari ketiga jenis cara menangkap ikan masyarakat suku Bajo ini hanya pada lamanya mereka hidup dilaut. Sedangkan teknis penangkapan ikan, mereka lakukan dengan cara yang sama. Yaitu dengan cara Mamia Kadialo atau pengelompokan orang yang ikut dalam menangkap ikan.
Palilibu adalah cara menangkap ikan dengan cara yang sederhana menggunakan perahu yang bernama Soppe yang digerakkan dengan menggunakan dayung. Menangkap ikan dengan Palilibu hanya dilakukan beberapa hari saja dan kembali pulang. Ikan hasil tangkapan kemudian dibagi dua, untuk konsumsi keluarga dan untuk dijual.
Bapongka atau Babangi secara teknis juga sama seperti Palilibu hanya saja lebih lama. Bapongka adalah melaut selama beberapa minggu dengan membawa ikut seluruh anggota keluarga. Jenis perahu yang digunakan hampir sama dengan yang di gunakan saat Palilibu hanya saja lebih besar.
Sedangan Sasakai adalah kegiatan melaut yang bisa memakan waktu sampai berbulan- bulan lamanya. Wilayah jelajah Sasakai adalah antar pulau dan menggunakan perahu yang lebih besar yang terbagi menjadi beberapa kelompok.
Kegiatan melaut bagi masyarakat suku Bajo adalah kegiatan yang sangat sakral karena menyangkut kepada kebiasaan lama yang membuat mereka mengingat leluhur mereka melalui pengetahuan yang diwariskan. Karena kesakralan inilah kegiatan melaut baik Palilibu, Bapongka ataupun Sasakai selalu memiliki pantangan yang jika pantangan tersebut dilanggar maka hasil yang didapat, diyakini,  tidak akan maksimal ataupun diyakini akan membuat marah Roh penghuni laut.
Video sekilas tentang suku Bajo 
(Sumber Video :www.Youtube.com/ Upload oleh Eka Lexical) 
Pantangan dalam melaut ini bukan hanya harus dijaga oleh mereka yang pergi melaut. Tapi juga oleh mereka yang ditinggalkan dirumah. Karena jika salah satu pihak melanggar pantangan ini diyakini akan menjadikan keadaan laut menjadi tidak baik karena Roh penghuni laut yang marah. Dan salah satu pantangan yang dijaga mereka adalah seperti tidak membuang air cucian beras disembarang tempat. Baik pada saat dilaut ataupun pada mereka yang ada dirumah.
Suku Bajo adalah salah satu suku yang memberikan kita bukti bahwa memang benar bangsa Nusantara adalah bangsa pelaut. Dan karena pengetahuan mereka terhadap laut inilah yang menjadikan bangsa Nusantara dahulu sempat dikenal dan dihormati oleh banyak bangsa. Dan karena pengetahuan akan laut inilah yang kemudian menjadi salah satu bukti kenapa banyak suku- suku Nusantara yang tersebar ke banyak penjuru dunia sejak dahulu kala.
Jika diteliti dari banyaknya kisah yang menjelaskan tentang kebesaran dari tanah Nusantara, baik dalam hal ilmu pengetahuan ataupun peninggalan- peninggalan lainnya, semua seperti mengkerucut kepada satu hal. Menyatu dengan alam. Alam sudah menjadi gantungan hidup para leluhur bangsa Nusantara sejah dahulu kala sehingga sangat wajar jika banyak sejarah kontemporer yang menjelaskan kenapa banyak dari mereka yang menyembah benda- benda alam seperti bulan, matahari, gunung atau yang lainnya. Hal itu bisa terjadi karena bagi mereka benda- benda dari alam tersebut adalah benda- benda yang sangat kuat dan tidak tertandingi hingga akhirnya banyak paham- paham aliran agama mainstream masuk ke mereka yang mengenalkan sosok Tuhan kepada mereka dan menjelaskan bagaimana Tuhan menciptakan benda- benda tersebut.

Baca Juga: Inilah Rahasia Dibalik Misteri Pantai Selatan 
Namun terlepas dari permasalahan aliran kepercayaan apapun, suku Bajo tetap menjadi sosok penerang bagi masyarakat modern saat ini tentang cara melestarikan alam sekitar atau laut dalam hal ini. Bahwa tidak selalu dibutuhkan perubahan atau modernisasi untuk dapat menjaga alam. Karena yang terpenting adalah kesetiaan juga konsistensi terhadap ajaran- ajaran yang sudah terbukti efek positifnya sejak dahulu kala. Karena terkadang untuk memecahkan sebuah permasalahan, kita harus tahu bagaimana cara leluhur kita dahulu memecahkan masalah mereka.


Sayanusantara.blogspot.co.id


Referensi:
1. http://www.mongabay.co.id/2014/01/26/kearifan-suku-bajo-menjaga-kelestarian-pesisir-dan-laut/
2. http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbmanado/2014/11/26/bapongka-tradisi-penangkapan-ikan-laut-orang-bajo-yang-menghargai-alam/