Mapasilaga Tedong, Tradisi Menghormati Orang Yang Sudah Meninggal Tana Toraja Dengan Adu Kerbau

Walaupun tergolong upacara adat yang membutuhkan biaya yang sangat besar, tradisi Mapasilaga Tedong merupakan tradisi yang sudah mengakar dengan kuat di Tana Toraja..



Tana Toraja memiliki tradisi unik lainnya untuk menghormati orang yang sudah lama meninggal. Karena selain tradisi Ma’nene terdapat juga tradisi Mapasilaga Tedong yang merupakan tradisi adu kerbau. Tradisi ini menjadi daya tarik sendiri bagi wilayah Tana Toraja yang dapat menarik banyak wisatawan asing atau domestik untuk berkunjung ke Tana Toraja. Dan biasanya tradisi ini dilakukan pada saat upacara pemakaman orang yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.

Tana Toraja biasanya ramai dikunjungi para wisatawan pada bulan Juli. Karena pada bulan tersebutlah, masyarakat setempat meyakini, yang dianggap waktu yang tepat untuk melaksanakan upacara Adat Rambu Solo. Upacara Adat Rambu Solo adalah sebuah ritual penghormatan terakhir bagi orang yang sudah meninggal dunia. Dan pada puncak acara adat inilah biasanya dilakukan tradisi Mapasilaga Tedong atau adu kerbau.

Tradisi Mapasilaga Tedong Tana Toraja. (Sumber Gambar: www.Culculture.blogspot.com)
Namun tidak semua kerbau dapat diikut sertakan pada tradisi Mapasilaga Tedong. Biasanya yang diikut sertakan pada Mapasilaga Tedong ini adalah jenis kerbau bule atau yang biasa disebut degan nama Tedong Bunga oleh masyarakat setempat. Selain kerbau bule, jenis kerbau lain yang diikut sertakan pada Mapasilaga Tedong adalah jenis Kerbau Lumpur atau yang dikenal dengan nama latin Bubalus Bubalis dan kerbau Salepo dan Lontong Boke. Jenis kerbau Lumpur adalah jenis kerbau yang hanya bisa ditemukan di Tana Toraja sedangkan kerbau Salepo adalah jenis kerbau yang memiliki bercak hitam di punggung dan kerbau jenis Lontong Boke adalah kerbau dengan punggung berwarna hitam.
Dari banyak kerbau yang diikut sertakan, terdapat satu jenis kerbau yang paling sering diikut sertakan pada Mapasilaga Tedong. Yaitu jenis Tedong Pudu, yaitu kerbau yang berkulit hitam legam. Kerbau jenis ini biasa diikut sertakan karena mudah dilatih dan tidak semahal jenis kerbau lainnya. Namun walaupun tidak termasuk kerbau yang mahal, harga paling murah untuk satu kerbau Tedong usai dewasa bisa mencapai Rp. 40.000.000; sedangkan harga kerbau dari jenis yang lainnya berada di atas harga tersebut.

Mapasilaga Tedong Tana Toraja
(Sumber Video: www.Youtube.com. Upload oleh Wonderful Toraja)

Acara Mapalasilaga Tedong biasanya dilakukan sebelum upacara adat Rambu Solo dimulai. Pada saat inilah puluhan kebau yang akan diadukan dibariskan dilapangan tempat upacara akan dilangsungkan. Namun sebelum kerbau tersebut diadu, biasanya kerbau diarak dengan didahului oleh para pemain gong dan para pembawa umbul- umbul dan sejumlah wanita dari keluarga yang berduka ke lapangan yang berlokasi di pemakaman atau yang dikenal dengan sebutan rante oleh masyarakat setempat. Dan pada saat barisan kerbau meninggalkan lokasi, musik pengiringpun dimainkan. Musik pengiring biasanya berasal dari sejulah wanita yang menumbuk padi pada lesung secara bergiliran.
Walaupun tergolong upacara adat yang membutuhkan biaya yang sangat besar, tradisi Mapasilaga Tedong merupakan tradisi yang sudah mengakar dengan kuat di Tana Toraja. Berkaitan dengan tradisi Rambu Solo, atraksi ini bisa tetap bertahan sampai saat ini karena aspek penghormatan masyarakat terhadap orang tua serta leluhur yang telah meninggal. Untuk itulah alasan kenapa banyak peserta yang ikut serta dalam tradisi ini. Dan karena berhubungan dengan biaya yang sangat besar, berbagai macam carapun dilakukan pemilik kerbau agar kerbau miliknya dapat menang dalam pertarungan. Salah satunya adalah dengan cara mendatangkan dokter hewan secara rutin untuk mengecek kesehatan kerbau yang akan dipertandingkan.
Acara adat Mapasilaga Tedong semakin meriah ketika sampai pada puncaknya. Karena pada puncak acara adat, selalu dilakukan prosesi pemotongan kerbau ala Toraja. Pemotongan ini sangat khas karena biasanya dilakukan penebasan kepala kerbau yang masih hidup hanya dengan satu kali tebas menggunakan parang.

Saat- saat penebasan kerbau dalam adat Mapasilaga Tedong Tana Toraja
(Sumber Gambar: www.derosaryebed.blogspot.com)
Tana Toraja adalah daerah yang sangat kental dengan adat tradisi nenek moyang yang masih dipertahankan sampai saat ini. Itulah kenapa Tana Toraja menjadi salah satu daerah khusus tersendiri bagi para wisatawan untuk menyaksikan upacara adat mereka yang tergolong unik. Mungkin inilah dampak dari warisan nenek moyang yang masih dipegang erat oleh generasi penerusnya yang menjadikan daerah tersebut memiliki ‘Image’ tersendiri bagi dunia untuk mengenalnya. Karena ketika adat yang diwariskan nenek moyang masih dipegang dengan erat oleh penerusnya, itu akan menjadi ciri khas tersendiri baginya yang membedakannya dari daerah yang lain baik di Indonesia maupun di dunia. Dan jika tradisi tersebut hilang dari Tana Toraja, lalu dengan image apa dunia akan mengenal Indonesia khususnya Tana Toraja?

Referensi:
1. http://zainbie.com/tradisi-mapasilaga-tedong-tana-toraja-atraksi-adu-kerbau/
2. https://id-id.facebook.com/notes/paling-indonesia/mapasilaga-tedong-adu-kerbau-ala-toraja/192089394166652/
3. https://indonesianunik.wordpress.com/2014/02/10/tradisi-unik-mapasilaga-tedong-tana-toraja-indonesia/




<< Sebelumnya                   Selanjutnya >>

No comments:

Post a Comment

Terbaru

13 Fakta Kerajaan Majapahit: Ibukota, Agama, Kekuasaan, dan Catatan Puisi

  Pendahuluan Sejarah Kerajaan Majapahit memancarkan kejayaan yang menakjubkan di Nusantara. Dalam artikel ini, kita akan menyelami 20 fakta...